Buih
KARYA : AHMAD FAISAL IMRON
matahari, begitu lugas
mengawasi liuk ombak
kadang mirip gaun seorang ibu
cahayanya menggeliat ungu
*
sebelum lidah air mematahkan sebuah bentangan
telah kulukai pantai ini dengan cakar menantang;
fosil usia yang mungkin kau akan mengingatnya
hari ini, bahkan yang akan kita sesali
ranyauan terdahulumu yang teraniaya
pada pelukan seorang pendusta
kita pun seakan berpesta-pora
membakar dusun-dusun rahasia
larung-larung tanpa nama
seorang perawan
tiba-tiba membelah laut
dengan menjulurkan tubuhnya
yang kecut
namun itulah bahasa
sketsa putih, sepasang lekukan abadi
bak simponi gelisah merekah
paras angkasa juga
kapas mengeras juga
dan tergetar kemudian
**
jam tiga sore ujung rambutmu tampak menguning
sehingga lebih banyak kerutan dibanding senyuman tertahan
di ronamu, adalah kecemasan yang terbebas
adalah detak jantung yang terulang-ulang
setelah beralih dari krafsanzani yang bimbang
maka tak ada satu kata pun yang dirasa lebih suci
aku pun dengan segera menuliskan
jauh di atas ombak, renda kelabu yang kekal
kehidupan bergerak melebihi deburan ombak
manakala seseorang diutus laksana Musa yang mafhum
segala yang disebut kebisingan, misteri dan langit jingga
saat itu pula aku menamainya sebagai seorang pembaptis
ya, seorang pembaptis!
seperti yang dulu pernah kauciptakan
tiba-tiba…
tujuh manusia sempurna
nisbah pasha-pasha terdekat
melirik tajam, 100 dendam
dari biru bibirnya, mereka adalah penghuni sejati laut ini
tulislah surat ini dengan darahmu sendiri! mereka berkata
dengan takzim kau pun berlutut tak bertenaga
o, ternyata di sini suhu lebih dewasa
dari apa yang pernah kita ciptakan, bukan?
tapi sebuah pulau tampak menyerap seluruh keteduhan
di situ terkenang juga tangga merah bercabang
fosil-fosil kecoklatan, nama-nama yang sempurna
senja yang melintas bagai pualam berdebu
tapi laut telah berjanji
mengobati seluruh kenestapaan
dan kini berada
lebih rendah ketimbang tumit-tumit kami
maka kuhindari saat-saat yang serba memilukan
maka kucintai diriku sebagaimana mestinya
dan kau, setelah hari merendah, kembali mengigau
***
ada jeritan camar terpecah sopran di udara
gemerincing pohon dan sebuah menara begitu pongah
laksana Enigma tercium apa adanya;
kebenaran dalam ritme sesingkat buih mendarat
barangkali mesti kuhadapi mimpi-mimpi bersahaja
sembilan dayang dengan jemari berbinar
selendang biru muda serta tatapan kebesaran
akan kubiarkan kata-kataku marasuki tubuhnya
seraya memuntahkan seluruh spesies para pendusta
tapi jam-jam ini
orang-orang mulai melepas
arwahnya sendiri
di situlah estetika
semesta dalam pose yang pikau
langit-langit bergeser
laut yang tengadah
tamsil dari segala tamsil!
aku telah berjanji melukismu sembari telanjang
melemparkan berbutir-butir apel berdarah
bunga malam, cahaya lilin dan sebongkah penyesalan
terimalah, sebagai rasa inginku
yang terpendam seketika
****
aku masih di antara pesisir dan bukit yang tertolong
seseorang dengan mata mirip mata merpati kelelahan
menikam kekosongan dan kebiruan yang bergema
inikah yang kausebut-sebut kemudian kau dewakan?
di situ, di antara butiran pasir dan ombak putih
matahari seakan merestui warna tembaga tubuhku
bagai mumi, bagai manusia terpernis, pias, tak abadi
ada sebuah lampu gagal
melepaskan cahayanya pada kami
ibarat titik akhir dari rentetan sebuah drama
yang terkadang menghilang
terkadang melahirkan semacam ilham
kau yang teramat lusuh
masih saja tertanam di dasar laut
aku, dengan sendirinya
tak mampu menjawab
garis langit, angin yang tersalib
desiran senja, nafas kerang
sayap kelelawar, biru, malam
selembar demi selembar
buih-buih itu, meninggalkan kita
mungkin kau akan mengingatnya…
(sajak lama)
(Source: twitter.com)


