Poesia . . .

RSS

Poetry Readings In the event “What’s Poetry” Forum Penyair Internasional Indonesia. Cak Durasim Surabaya 11 April 2012

Buih

KARYA : AHMAD FAISAL IMRON


matahari, begitu lugas

mengawasi liuk ombak

kadang mirip gaun seorang ibu

cahayanya menggeliat ungu

*

sebelum lidah air mematahkan sebuah bentangan

telah kulukai pantai ini dengan cakar menantang;

fosil usia yang mungkin kau akan mengingatnya

hari ini, bahkan yang akan kita sesali

ranyauan terdahulumu yang teraniaya

pada pelukan seorang pendusta

kita pun seakan berpesta-pora

membakar dusun-dusun rahasia

larung-larung tanpa nama

seorang perawan

tiba-tiba membelah laut

dengan menjulurkan tubuhnya

yang kecut

namun itulah bahasa

sketsa putih, sepasang lekukan abadi

bak simponi gelisah merekah

paras angkasa juga

kapas mengeras juga

dan tergetar kemudian

**

jam tiga sore ujung rambutmu tampak menguning

sehingga lebih banyak kerutan dibanding senyuman tertahan

di ronamu, adalah kecemasan yang terbebas

adalah detak jantung yang terulang-ulang

setelah beralih dari krafsanzani yang bimbang

maka tak ada satu kata pun yang dirasa lebih suci

aku pun dengan segera menuliskan

jauh di atas ombak, renda kelabu yang kekal

kehidupan bergerak melebihi deburan ombak

manakala seseorang diutus laksana Musa yang mafhum

segala yang disebut kebisingan, misteri dan langit jingga

saat itu pula aku menamainya sebagai seorang pembaptis

ya, seorang pembaptis!

seperti yang dulu pernah kauciptakan

tiba-tiba…

tujuh manusia sempurna

nisbah pasha-pasha terdekat

melirik tajam, 100 dendam

dari biru bibirnya, mereka adalah penghuni sejati laut ini

tulislah surat ini dengan darahmu sendiri! mereka berkata

dengan takzim kau pun berlutut tak bertenaga

o, ternyata di sini suhu lebih dewasa

dari apa yang pernah kita ciptakan, bukan?

tapi sebuah pulau tampak menyerap seluruh keteduhan

di situ terkenang juga tangga merah bercabang

fosil-fosil kecoklatan, nama-nama yang sempurna

senja yang melintas bagai pualam berdebu

tapi laut telah berjanji

mengobati seluruh kenestapaan

dan kini berada

lebih rendah ketimbang tumit-tumit kami

maka kuhindari saat-saat yang serba memilukan

maka kucintai diriku sebagaimana mestinya

dan kau, setelah hari merendah, kembali mengigau

***

ada jeritan camar terpecah sopran di udara

gemerincing pohon dan sebuah menara begitu pongah

laksana Enigma tercium apa adanya;

kebenaran dalam ritme sesingkat buih mendarat

barangkali mesti kuhadapi mimpi-mimpi bersahaja

sembilan dayang dengan jemari berbinar

selendang biru muda serta tatapan kebesaran

akan kubiarkan kata-kataku marasuki tubuhnya

seraya memuntahkan seluruh spesies para pendusta

tapi jam-jam ini

orang-orang mulai melepas

arwahnya sendiri

di situlah estetika

semesta dalam pose yang pikau

langit-langit bergeser

laut yang tengadah

tamsil dari segala tamsil!

aku telah berjanji melukismu sembari telanjang

melemparkan berbutir-butir apel berdarah

bunga malam, cahaya lilin dan sebongkah penyesalan

terimalah, sebagai rasa inginku

yang terpendam seketika

****

aku masih di antara pesisir dan bukit yang tertolong

seseorang dengan mata mirip mata merpati kelelahan

menikam kekosongan dan kebiruan yang bergema

inikah yang kausebut-sebut kemudian kau dewakan?

di situ, di antara butiran pasir dan ombak putih

matahari seakan merestui warna tembaga tubuhku

bagai mumi, bagai manusia terpernis, pias, tak abadi

ada sebuah lampu gagal

melepaskan cahayanya pada kami

ibarat titik akhir dari rentetan sebuah drama

yang terkadang menghilang

terkadang melahirkan semacam ilham

kau yang teramat lusuh

masih saja tertanam di dasar laut

aku, dengan sendirinya

tak mampu menjawab

garis langit, angin yang tersalib

desiran senja, nafas kerang

sayap kelelawar, biru, malam

selembar demi selembar

buih-buih itu, meninggalkan kita

mungkin kau akan mengingatnya…

(sajak lama)

(Source: twitter.com)

Apr 6

International Poetry Festival in Indonesia

Apr 6

Hari Pertama Mengasuh Masa Lalu

dia memang pintar menempatkan sesuatu di dalam hatinya

juga ketika harus menata kenangan pahit, perih dan nyeri.

dibisikannya setiap hari dalam hatinya

bahwa seseorang mengenakan kemeja hitam

meninggalkannya di suatu mal

hanya sebuah pisau yang akan ia bekal.

sedang dia tahu, sebuah kepala adalah kotak

di mana hanya dialah sendiri yang tahu

pintu masuknya.

 

oh ngilu, pertama kali ketika

ia lihat matanya di hadapan cermin.

pakaian di hari pernikahannya

tak sempat ia bawa

dan hanya menjadi sesobek langit hambar.

 

kembali ke masa lalu

berarti harus berburu kesunyian

 

ya, kesunyian yang diletakan di keramaian kota

di mana hanya suara murni yang akan tertangkap

di antara para sales, rengek pengemis dan percakapan telepon

atau siluet orang-orang mengaburkan pandangannya.

 

tapi pisau yang digenggam terus oleh dia

bisa mengembalikan rasa percaya diri,

saat menggoda meminta urat nadi

pergelangan tangannya sendiri.

 

Sayidah

2010


Penjaga Gerbang

Thallo

 

engkau tumbuhkan tunas-tunas itu

bagai suara lebah yang berdengung

di antara reranting yang sudah lama kesepian

tanpa ada kelahiran.

tapi selalu warna perawan yang teremas

di langit.

 

pada nganga jaraklah

engkau berada, dikepung burung-burung

yang bahagia merayakan pertemuannya

dengan pasangan. tetapi tak ada yang menjemputku.

selain suara seruling sunyi

yang bergema di hatiku sendiri.

 

Auxo

 

saatnya bagimu memetik buah-buah yang matang

segalanya diputar dan kini giliran kau kembali datang

jangan biarkan sungai-sungai kekeringan

dengan ikan-ikan kecemasan, terancam

dalam perangkap perawan.

 

jangan pula tetanah retak

dan kehilangan bayang.

sungguh akan membuat batu rinduku kesepian.

ngilu tiada terkatakan di coklat kulitku sendiri.

 

sebelum pohon-pohon menjadi kerontang.

ada baiknya, kau cium bibirku yang meronta

memintakan anggur di langit gersang.

 

Karpo

 

meski waktu terasa memendek karena ulahmu.

adakah kisah panjang yang bisa kau hidangkan

pada kekasihku?

 

ketika daun-daun jatuh, menangkup ruhnya yang luruh

orang-orang kesepian di rumahnya sendiri.

kau tak pernah bisa menyeduhkan elegi

bagi mereka yang akan ditinggal mati.

 

kulit-kulit pohon menahan takdir.

dan engkau dengan menawan terus menebar

bijian. di mana setiap tangkai menggugurkan puisi.

 

aku tetap akan berdiri, menahan diri

untuk menungguinya, bersama memasuki surga

yang senantiasa kalian jaga.

 

2010

Penikmat Kentang: TANG KUMELI KENTANG, NGEK-NGEK!

mugyasyahreza:

Oleh Sarabunis Mubarok

(Catatan atas buku Hikayat Pemanen Kentang)

Hal-hal sederhana membentuk kesempurnaan,
tapi kesempurnaan bukanlah hal yang sederhana”

Saya pernah berseloroh di antara kawan-kawan Sanggar Sastra Tasik (SST), bahwa setidaknya ada tiga hal yang pernah mempengaruhi…

Bila Segala Perabotan Rumah Tangga Bicara

Pisau Dapur

hari ini aku libur bekerja

sudah lima bulan aku ikut memotongi kenangan

ingatanmu seperti potongan bawang

berlapis-lapis dan semakin merah ke dalam

aku harus melupakan sekerat daging ayam

sebutir telur dadar dan roti siap panggang

demi memuaskan keinginan

aku rela kau genggam, dan kau simpan

di leher lelaki yang kau sebut suami,

apakah ia masih berani menjadi seorang pembohong?

Mesin Jahit

suaraku masih perlukah memenuhi seluruh 

rumahku, ketika pintu itu

dengan penuh dendam kau banting

keras-keras di malam pilu.

kau belum selesai merenda pakaian itu

tapi masa lau yang selalu

dijelmakan hantu oleh waktu

telah lebih-lebih merobek dirimu,

juga mungkin hatimu.

lelaki yang kau elu-elukan

itu menampar mukamu

Meja Makan

duduk berhadap-hadapan saling diamseakan bak manusia pertama yang tak memiliki

kata

perlahan menyuapkan perih ke jejal

mulutmu yang ingin menjerit sekaligus

menjerat kebahagiaan.

lelaki yang kau sebut lelaki itu

menyiram wajahmu dengan air yang kau

tuang penuh kehangatan.

Lemari Kaca

bayangan yang terpantul di kaca itu

sebenarnya tak pernah betul

mencerminkan dirimu.

rambutmu yang hitam tergerai legam

bukanlah meminta belaian belaka

atau bibir yang bergelombang

merah memukau tak membutuhkan

ciuman pura-pura

kau ingin bersembunyi ke dalam 

dadaku

ketika lelaki yang kau sebut suami

meraih tubuhmu hanya untuk menggusurmu

ke ranjang birahinya saja.

Televisi

demi kau bahagia

terhibur dan melupa lara

menganggap air mata telah tiada

kuputarkan telenovelajanji surga di tamat cerita

tetapi lelaki yang kau namai suami

leluasa mematikan rokoknya

di atas punggungmu

sehabis menonton tim sepak bolanya

kalah telak dan taruhan tak menemu laba

Telefon Rumah

kau berharap suaraku

adalah suara dari seberang sana,

di mana seorang perempuan tua

bertanya perihal keadaanmu

dan sedang apa kau di situ.

tetapi mengapa suara perempuan

yang manja, bertanya

lelaki yang kau cintai

apakah sudah pergi?

Ranjang

pasti kau mengira aku bicara kehangatan

dan keperkasaan senggama.

oh tidak, aku sudah lama dingin.

purba sekaligus ragu.

kalau pun kau tertidur dengannya

hanya dua punggung saling bersinggungan

Vas Bunga

apakah kau kehilangan cerahwarna motif dan tinta pada rajah

tubuhku?

apakah kau masih perawan

yang ceria memandangku

dari lubuk jiwa, menyiramiku doa semata?

Foto Figura

tenanglah, aku masih menyimpan

senyum sepasang pengantin

yang ingkar janji.

masih cukup berbisik

berbaik hati melaknat diri.

Gelas

sebelum aku berserak

dan berteriak

kau sudah duluan tergeletak.

lebam matamu, sumbing bibirmu

bahkan memar di dadamu.

tak kuasa aku mengguris licin

kulitmu.

wahai manis, masih bisakah

kau menenggak air putih

yang mengental jadi merah

mengucur tak berdarah

2011

Nov 8
baca puisi di Kelurahan Toga, Ternate. Temu Sastrawan Indonesia IV

baca puisi di Kelurahan Toga, Ternate. Temu Sastrawan Indonesia IV

Mengukur Bajumu

ketika melipatkan bajumu,

aku akhirnya mengetahui

ukuran badanmu. dan sampailah

pada suatu kesimpulan :

waktu masih tetap menjadi sisi-sisi rapi

di antara kekusutan, yang kita saksikan

menumpuk membetuk segi ingatan.

 

televisi seperti apa yang akan mengisi

ruang tamu kita?

mesin cuci mana yang akan kita beli?

lemari mana yang paling tinggi

menghuni kamar kita nanti?

 

pertanyaan itu, tak lebih berarti dari puisi-puisi

yang kekal kau tulis

di atas tubuhku ini.

 

2011

4 puisi, di Sastra Digital

KAMI MENYERAH PADA API

sebelum matahari membuat kami iri

bolehlah bulu-bulu lentik di alis matamu

kami habisi, sebagai sarapan puisi

wahai lambung pagi.

ada hijau danau yang membuka gerbang

untuk kami masuki, dalam diri

di kabut yang tak kekal membaluri

kerumunan api.

kami iringi setia kepul asap

di dada perapian

dengan jasad kayu yang terus menjadi abu.

dari jarak tak seberapa jauh

engkau masih merasakan kami,

berdebur sebelum lebur

menyisakan arang

di baris-baris sajak yang hitam

melegam dalam ingatan.

2010

MAUT

jika kelak aku terbaring,

tapi bukan tertidur.

lelapku mungkin serupa nyala lilin

abadi dalam bayanganmu.

mengejar malam

bersais mimpi muram.

bangunkanlah kesunyianku

agar bisa kau tanamkan sajak

pada tubuhku yang pasi.

kecuplah lembut bibirku,

bibir yang dingin

biru bagai bius laut itu.

saat tiba waktunya, kelak

terhentilah seluruh terungku

doa fanaku.

2010

JARAK

di tanganmu, penyair

tetap engkau tak akan mampu meremas

warna perawanku.

bagai kau kemas kata-kata

jadi siksaan, bagi mereka

yang menemukan hidupnya dalam sajak.

aku terlalu merdeka

umpama ambangan padma

di permukaan telaga.

biarkan aku mengitari sisa kuasamu

yang terlupa kau bentangkan

dalam sajakmu,

sungsang larik demi larik

yang mengekal putih

di hamparan kertasmu.

2010

SEBATANG COKLAT

bagai usia yang terus mengerak

aku tak dapat menggali lebih dalam

daripada sebuah ciuman.

setiap kali aku terpatahkan, lantas leleh

mengapa harus kelak aku begitu dirindukan,

jika hanya memuaskan sejenak

di perjumpaan kalian.

2010

Anis Sayidah

Puisi dimuat Suara Pembaruan, 17 Juli 2011

 Ekstase Batu

mengambang seperti lagu

begitu kukuh menerjang rindu.

di sungai-sungai waktu

perpisahan itu laju,

usia yang menuju ke muara laut ngilu.

dan kita memilih keras membatu

memahami kembali

sesuatu tercuri dari masing-masing

tepi hati.

2011

Kalung Matahari

lehermu sepanjang garis cakrawala

tempat senja mengulum seluruh jingga semesta.

daun-daun terkesiap oleh angin

dan tangan gaib dari segala rindu

mengalungkan sinar matahari

yang tinggal selajur cahayanya.

2011

  Jalan Puisi  

jalan menikung ke puisi

keloknya tak terhitung

dan dirimbuni pohonan sepi.

jalan curam di tiap nyanyi

selagi kau masuki.

ada puncak duri

tak terdaki, pada kata-kata

rindu enggan dibaringkan

sepanjang bayangan diri.

2011

Genggam Sunyi

erat-erat kau dekap kata

hingga kehilangan itu semakin ada.

bagaimana mangsamu bisa lepas

sedangkan seluruh jemari telah

bersidekap di dada.

2011

Kami Bernaung di Bayang Gedung

kami yang bernaung di bayang gedung

selalu mengidamkan matahari menerabas

ke kulit puisi, ke akar kata

juga bungkus sepi.

sebab hanya deru angin

dari bus kota, atau bau bacin terminal

yang terkirim.

harus kami sempurnakan

ke dalam bait-bait lambang hidup

dalam paragrap.

atau hanya sisa kais sampah

diambang sungai yang terseret

ke dalam mimpi.

oh, malam pun demikian

bulan yang selalu kutuangkan ke gelas sulang

hanya mengintip malu,

dari balik langit bersaku.

mungkin, hanya ada sisa api

yang sengaja kami jaga

menghangatlah meski hanya sampai

batas metafora saja.

2011

Garasi

sebuah puisi tua

mengeram dirinya di sana.

berharap seseorang

menyalakan mesin kata-kata

atau mau menghidupkan lampu

nanar umpamanya.

hanya tinggal onggok besi

yang tak hendak berbunyi

tapi asyik sembunyi.

2011

Mata Puisi

jangan intai aku dengan sepi

sekerling kata

yang memadati pagi.

mewakili bayang hidup

sepanjang kenangan yang terseret

kali mati dalam dadaku ini.

2011



Anis Sayidah

Always be a poet, even in prose.

- Charles Baudelaire

Sep 7
di dalam truk sayur itu bersama my sister @SyantiSyarifa :D

di dalam truk sayur itu bersama my sister @SyantiSyarifa :D

Sharing Poetry: Pablo Neruda, "Sonnet LXXIX"

sharingpoetry:

Tie your heart at night to mine, love,
and both will defeat the darkness
like twin drums beating in the forest
against the heavy wall of wet leaves.

Night crossing: black coal of dream
that cuts the thread of earthly orbs
with the punctuality of a headlong train
that pulls cold stone and shadow…

Cakeep :)

Cakeep :)

(Source: Flickr / ktb)